Aku Tidak Diperbolehkan Pergi

 Terik matahari menusuk kulit berganti hujan yang menyengat tulang. Hari berganti tahun karena bulan yang terus berubah. Lalu lalang kendaraan tidak menjadi alasannya menghiraukan apa yang ada di luar rumah. Dia hanya menatapku yang sedang duduk merebahkan pantat setiap hari.

"Jadi hari ini aku harus menemanimu lagi?"

Gadis renta itu mulai menggoyangkan kursinya seakan mengganti gerak kepalanya untuk mengangguk. Rambut putih lurus itu berpadu dengan bingkai kacamata berwarna perak. Kulit putihnya yang dulu kencang sekarang mengabarkan kelelahannya dan beristirahat dengan santai.

Aku mengaitkan jari-jari kedua tanganku dan menarik napas ringan namun dalam. Membuka mata dan menatap gadis berusia senja, aku memasang senyum layaknya saat aku masih memiliki tubuh di dunia fana. Gadis itu tersenyum.

"Hari ini kita main apa?" tanyanya.

"Hari ini kamu main sendiri," jawabku.

"Ular tangga?"

"Itu permainan anak kecil."

"Jadi enaknya main apa?"

"Kamu sedang bermain-main denganku," sindirku sambil terkekeh kecil sebisanya.

Gadis itu ikut terkekeh. Meskipun renta, senyum di bibirnya adalah yang terbaik. Sebuah ciptaan Tuhan yang dititipkan kepadaku. Itulah alasan kenapa aku merasa bersalah dan kasihan kepadanya. Wanita yang diciptakan dengan perasaan yang lebih dalam daripada laki-laki. Aku tidak tega meninggalkannya kesepian dengan kursi goyang yang lapuk dan reot di rumah yang selalu berisik karena suara yang masuk tanpa izin dari mobil dan motor kota.

"Kamu mau makan?" tawarnya.

"Aku sudah kenyang. Melihat rembulan dunia tepat di depan mata, aku tidak bisa tidak puas dengan kehidupanku."

"Kamu bisa saja. Kita sudah tidak lagi muda. Jadi jangan banyak menggombal."

Aku diejek. Dulu aku sangat pendiam sampai menikah dengannya. Senang rasanya ketika melihat istriku menggelagap dan salah tingkah dengan wajah memerah. Tapi jurus-jurus itu sudah tidak bisa kukeluarkan dengan maksimal, karena suaraku semakin hari semakin habis. Getarannya tak lagi sesuai dengan udara di dunia.

Gadis itu berdiri dari tempat duduk. Ia berjalan tertatih menuju dapur. Tak perlu menunggu waktu lama untuk mendengar simfoni perlatan masak dari kayu dan besi. Kemudian suara sesuatu yang beradu dengan api di tengah wajan mulai ramai, bak sebuah pertunjukan perang di mana pedang dan perisai saling beradu dalam medan laga.

Sepiring nasi berwarna kecokelatan mengilap karena minyak dan kecap lengkap dengan kerupuk dan taburan mentimun yang dicacah sudah dihidangkan di meja bundar tempatku dan sang gadis pujaan hati ini saling menatap.

"Silakan dimakan," ujarnya meniru seorang pramusaji di sebuah kafe.

Uap yang mengepul itu terasa harum, meskipun hanya melewati hidungku tanpa bisa kuhirup aromanya. Saat itu aku sangat sadar bahwa waktunya telah tiba.

Sangat berat rasanya untuk pergi secara terpaksa. Wanitaku sangat tidak ingin aku pergi dari sisinya. Aku seperti sudah menjadi miliknya, karena aku berani memanggilnya wanitaku. Aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku karena aku telah berjanji untuk terus berada di sisinya.

"Sayang...," ujarku lirih.

Gadis itu sadar dengan situasiku. Dia menatapku secara langsung dengan wajah tenang. Wajah tenang adalah salah satu keahliannya. Tidak akan ada seorang pun yang bisa mengenali perasaannya. Namun jika kau teliti, kau akan tahu kalau bibirnya gemetar secara samar. Dan itu adalah tanda bahwa cinta tidak mau melepaskanku.

Seperti kursi yang dulu kokoh menahan beban, sekarang ia lemah dan rapuh. Aku yang dulu sehat dengan tubuh yang kuat menopang jiwaku, membawanya ke sana ke sini, kini telah menjadi sosok yang habis masanya dan perlu pulang untuk tanggung jawab selanjutnya.

Kala kritis itu, aku memohon pada zat yang bertanggung jawab atas cinta dan kematian. Atas sosok yang akan kuhadapi dan kuserahkan segala yang kulakukan di dunia, aku berharap agar aku mendapatkan kembali suaraku meski hanya untuk bisa didengar cintaku yang terakhir di dunia. Dia semakin rusak, wajahnya bergetar hebat menahan perasaannya, dan air mata akan segera mengalir jika aku tidak membelai kepalanya. Aku butuh bantuan dari-Mu wahai Penguasa dari setiap hati.

Kemudian sebuah cahaya mengintip dan menerobos dari balik lubang angin di atas pintu. Aku tersenyum dan berdiri dari kursiku. Uap nasi goreng kesukaanku sudah tak jadi bahan perhatian dari inderaku yang semakin menghilang. Dengan sisa waktu itu, aku membacakan sebuah sajak berupa ayat pembuka dari kitab suci dengan nilai sastra di luar akal manusia.

Saat selesai kubacakan, wajah gadis itu sudah basah dengan air mata. Tapi matanya tidak menunjukkan kegelapan dan kesepian, melainkan cahaya dan keikhlasan. Senyumnya yang terakhir itu menjadi sumber bagiku juga untuk mengikhlaskan hidupku dan pulang menuju tempat di mana seharusnya aku berada.

 

07 Maret '21

Alfara Maula

Aku Tidak Diperbolehkan Pergi Aku Tidak Diperbolehkan Pergi Reviewed by Alfara on 19:56 Rating: 5

Tidak ada komentar

Komentar di sini.