Tetangga Toko Bangunan
Suatu hari Dadang memarkirkan motornya di halaman rumah. Saat itu hari Jumat yang udaranya bersih dan sejuk. Matahari menghangatkan badan dengan cahayanya. Dadang masuk ke rumah untuk melakukan pekerjaannya.
Tidak lama, mulai terdengar suara riuh besi diadu. Rupanya kuli-kuli toko bangunan mulai bekerja memindahkan rangka besi. Mereka melewati halaman rumah Dadang seperti biasa. Pekerjaannya gaduh seperti biasa, membuat tetangga terganggu dengan keributan itu.
Setelah beberapa lama sampai kuli-kuli itu selesai, Dadang mengecek halaman depan rumahnya. Ia melihat motor bebek hitam kesayangannya masih terparkir di halaman rumah menunggu majikannya. Tetapi posisi tempatnya terparkir sudah tidak simetris dan rapi seperti sebelumnya. Motornya melintang, menghalangi jalan orang. Dia seperti menjadi portal jalan yang tidak diinginkan.
Dadang mengelus dadanya, mencoba tenang. Tidak sekali dia mengalami hal ini. Orang tukang toko bangunan itu selalu bekerja dengan mementingkan dirinya sendiri. Tidak pernah ada kata permisi dari para tukang itu.
Dadang keluar dan membenarkan posisi parkir motornya. Dia menggeleng-geleng supaya para tetangga lain melihat. Melihat betapa mirisnya menjadi tetangga toko bangunan.
Siang juga berlalu, petang pun menjelang. Para prajurit toko bangunan kembali membuat kebisingan. Memindahkan rangkaian jari-jari besi yang disusun dengan pola kotak-kotak melewati halaman depan rumah Dadang. Motor yang diparkir dipindahkan kembali dan melintang menghalangi jalan. Tidak indah dipandang orang.
Mereka kembali pergi tanpa ada niat mengembalikan si bebek ke posisi semula. Sekali lagi Dadang membenarkan posisi motornya, tapi kali ini dia pulangkan ke dalam rumah, karena si bebek tidak akan dipakai lagi setelah petang. Malangnya hidup di samping toko bangunan.
Tetangga Toko Bangunan
Reviewed by Alfara
on
05:32
Rating:
Tidak ada komentar
Komentar di sini.